JAUHKANLAH DIRIMU DAN KELUARGAMU DARI API NERAKA

Wednesday, November 28, 2012

SUBJEK, SASARAN, PRINSIP, DAN ALAT EVALUASI

I. POKOK PERMASALAHAN
1.        Apa pengertian subjek dan sasaran evaluasi ?
2.        Apa prinsip-prinsip evaluasi ?
3.        Apa saja alat evaluasi ?

II. TUJUAN
  1. Untuk mengetahui pengertian subjek dan sasaran evaluasi serta siapa saja yang menjadi subjek dan sasaran evaluasi.
  2. Agar dapat mengetahui prinsip-prinsip evaluasi.
  3. Agar dapat mengetahui apa saja alat-alat evaluasi.

III. PEMBAHASAN
      A.          Subjek dan Sasaran evaluasi
  1. Subjek Evaluasi
Subjek evaluasi adalah orang yang melakukan pekerjaan evaluasi. Siapa yang dapat disebut sebagai subjek evaluasi untuk setiap tes, ditentukan oleh suatu aturan pembagian tugas atau ketentuan yang berlaku.
Ada pandangan lain yang disebut subjek evaluasi adalah siswa, yakni orang yang di evaluasi. Dalam hal ini yang dipandang sebagai subjek misalnya : prestasi matematika, kemampuan membaca, kecepatan lari dan sebagainya.
Pandangan lain lagi mengklasifikasikan siswa sebagai objek dan guru sebagai subjeknya.
  1. Sasaran Evaluasi
Apabila kita kembali kepada diagram di bab 1, subjek atau sasaran penilaian adalah segala sesuatu yang menjadi titik pusat pengamatan karena penilaian menginginkan informasi tentang sesuatu tersebut.
Dengan masih menggunakan diagram tentang transformasi maka sasaran penilaian untuk unsur-unsurnya meliputi : input, transformasi, dan out put.
a)      Input
Calon sebagai pribadi yang utuh, dapat ditinjau dari beberapa segi yang menghasilkan bermacam-macam bentuk tes yang digunakan sebagai alat untuk mengukur. Aspek yang bersifat rohani setidak-tidaknya mencakup 4 hal :
1)      Kemampuan
2)      Kepribadian
3)      Sikap-sikap
4)      Intelegensi
b)      Transformasi
Telah dijelaskan bahwa unsur yang terdapat dalam transformasi yang semuanya dapat menjadi sasaran atau objek penilaian demi diperolehnya hasil pendidikan yang diharapkan. Unsur-unsur dalam transformasi yang menjadi objek penilaian antara lain :
1)      Kurikulum atau materi
2)      Metode dan cara penilaian
3)      Sarana pendidikan atau media
4)      Sistem administrasi
5)      Guru dan personal lainnya
c)      Output
Penilaian terhadap lulusan suatu sekolah dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian/prestasi belajar mereka selama mengikuti program. Alat yang digunakan untuk mengukur pencapaian ini disebut tes pencapaian atau achievement test.

      B.          Prinsip-prinsip Evaluasi
1.         Keterpaduan
Evaluasi merupakan komponen intregal dalam program pengajaran disamping tujuan instruksional dan materi serta metode pengajaran. Tujuan instruksional, materi dan pengajaran serta evaluasi merupakan tiga kesatuan terpadu yang tidak boleh dipisahkan. Seperti gambar dibawah ini :






2.      Keterlibatan siswa
Untuk dapat mengetahui sejauh mana siswa berhasil dalam kegiatan belajar-mengajar yang dijalaninya secara aktif, siswa membutuhkan evaluasi. Dengan demikian, evaluasi bagi siswa merupakan kebutuhan, bukan sesuatu yang ingin dihindari.
3.      Koherensi
Dengan prinsip koherensi dimaksudnya evaluasi harus berkaitan dengan materi oengajaran yang sudah disajikan dan sesuai dengan ranah kemampuan yang hendak diukur.
4.      Pedagogis
Disamping sebagai alat penilai hasil/ pencapaian belajar, evaluasi juga perlu diterapkan sebagai upaya perbaikan sikap dan tingkah laku ditinjau dari segi paedagogis.
5.      Akuntabilitas
Sejauh mana keberhasilan program pengajaran perlu disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan pendidikan sebagai laporan pertanggungjawaban (accountability).

      C.          Alat Evaluasi
Dalam pengertian umum, alat adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk memepermudah sesorang untuk melaksanakan tugas atau mencapai tujuan secara lebih efektif dan efisien. Kata ”alat” biasa disebut juga dengan ”instrumen” . dengan demikian maka alat evaluasi juga dikenal dengan instrumen evaluasi.
Alat evaluasi dikatakan baik apabila mampu mengevaluasi sesuatu yang dievaluasi dengan hasil seperti keadaan yang di evaluasi. Dalam menggunakan alat tersebut evaluator menggunakan cara atau teknik, dan oleh karena itu dikenal dengan teknik evaluasi. Seperti disebutkan diatas, ada dua teknik evaluasi yaitu teknik non tes dan teknik tes.
1        Teknik Non Tes
Yang tergolong taknik non tes adalah :
-          skala bertingkat (rating scale)
-          kuesioner (questionair)
-          daftar cocok (check list)
-          wawancara (interview)
-          pengamatan (observation)
-          riwayat hidup.
2        Teknik tes
Definisi tes menurut Drs. Amir Daien Indrakusuma ” Tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan yang diinginkan tentang seseorang, dengan cara yang bolah dikatakan tepat dan cepat ”.
Selanjutnya definisi tes menurut Muchtar Bukhori ” Tes ialah suatu percobaan yang diadakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hasil-hasil pelajaran tertentu pada seorang murid atau kelompok murid ”.
Definisi terakhir yang dikemukakan disini adalah definisi dikutipkan dari
Webster’s Collegiate. Test = any series of questions or exercises or other means of measuring the skill, knowledge, intelligence, capacities of aptitudes or an individual or group “.
Yang artinya : Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Dari beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Tes merupakan  suatu alat pengumpul informasi tetapi jika dibandingkan dengan alat-alat yang lain, tes ini bersifat lebih resmi karena penuh dengan batasan-batasan.
Ditinjau dari segi kegunaan untuk mengukur siswa, maka dibedakan atas adanya 3 macam tes, yaitu:
1.      Tes diagnostik
2.      Tes formatif
3.      Tes sumatif
3        Perbandingan antara tes diagnostik, tes tesformatif, dan tes sumatif
  1. Ditinjau dari fungsinya
a.)   Tes diagnostik
-          Menentukan apakah bahan prasyarat telah dikuasai atau belum.
-          Menentukan tingkat penguasaan siswa terhadap bahan yang dipelajari.
-          Memisah-misahkan (mengelompokkan) siswa berdasarkan kemampuan dalam menerima pelajaran yang akan dipelajari.
-          Menentukan kesulitan-kesulitan belajar yang dialami untuk menentukan cara yang khusus untuk mengatasi atau memberikan bimbingan.
b.) Tes formatif
Sebagai umpan balik bagi siswa,guru, maupun program untuk menilai pelaksanaan satu unit program.
c.) Tes sumatif
Untuk memberikan tanda kepada siswa bahwa telah mengikuti suatu program , serta menentukan posisi kemampuan siswa dibandingkan dengan kawannya dalam kelompok.
  1. Ditinjau dari waktu
a.) Tes diagnostik
- Pada waktu penyaringan calon siswa.
- Pada waktu membagi kelas atau permulaan memberikan pelajaran.
- Selama pelajaran berlangsung bila guru akan memberikan bantuan kepada siswa.
b.) Tes formatif
Selama pelajaran berlangsung untuk mengetahui kekurangan agar  pelajaran dapat berlangsung sebaik-baiknya.
c.) Tes sumatif
Pada akhir unit caturwulan, semester akhir tahun, atau akhir pendidikan.
  1. Ditinjau dari titik berat penilaian
a.) Tes diagnostik
- Tingkah laku kognitif, afektif, dan psikomotor.
- Faktor-faktor pisik, psikologis, dan lingkungan.
b.) Tes formatif
Menekankan pada tingkah laku kognitif.
c.) Tes sumatif
Pada umumnya menekankan pada tingkah laku kognitif, tetapi ada kalanya pada tingkah laku psikomotor dan kadang-kadang pada afektif. Akan tetapi walaupun menekankan pada tingkah laku kognitif, yang diukur adalah tingkatan yang lebih tinggi ( bukan sekedar ingatan atau hafalan saja).
  1. Ditinjau dari alat evaluasi
a.) Tes diagnostik
-          Tes prestasi belajar yang sudah distandardisasikan.
-          Tes diagnostik yang sudah distandardisasikan.
-          Tes buatan guru.
-          Pengamatan dan daftar  cocok (check list).
b.) Tes formatif
Tes prestasi belajar  yang tersusun secara baik.
c.) Tes sumatif
Tes ujian akhir.
  1. Ditinjau dari cara memilih tujuan yang dievaluasi
a.) Tes diagnostik
·         Memilih tiap-tiap ketrampilan prasyarat.
·         Memilih tujuan setiap program pelajaran secara berimbang.
·         Memilih yang berhubungan dengan tingkah laku fisik, mental, dan perasaan.
b.) Tes formatif
Mengukur semua tujuan intruksional khusus.
c.) Tes sumatif
Mengukur semua tujuan intruksional umum.
  1. Ditinjau dari tingkat kesulitan tes
a.) Tes diagnostik
Untuk tes diagnostik mengukur ketrampilan dasar, di ambil soal tes yang mudah, yang tingkat kesulitannya (indeks kesukaran) 0,65 atau lebih.
b.) Tes formatif
Belum dapat ditentukan.
c.) Tes sumatif
Rata-rata mempunyai tingkat kesulitan (indeks kesukaran) antara 0,35 sampai 0,70.Ditambah beberapa soal yang sangat mudah dan beberapa lagi yang sangat sukar.
  1. Ditinjau dari skoring (cara menyekor)
a.) Tes diagnostik
Menggunakan standar mutlak dan standar relatif (criterion referenced and normreferenced).
b.) Tes formatif
Menggunakan standar mutlak (criterion referenced).
c.) Tes sumatif
Kebanyakan menggunakan standar relative  (norm referenced), tetapi dapat pula dipakai standar mutlak (criterion referenced).
  1. Ditinjau dari tingkat pencapaian
a.) Tes diagnostik
Berhubung ada bermacam-macam tes diagnostik maka tingkat pencapaian yang dituntut juga tidak sama. Untuk tes yang sifatnya memonitor kemajuan, tingkat pencapaian yang diperolah siswa merupakan informasi tentang keberhasilannya. Tindakan guru selanjutnya adalah menyesuaikan dengan hasil tes diagnostik.
Tes prasyarat adalah tes diagnostik yang sifatnya khusus. Fungsinya adalah untuk mengetahui penguasaan bahan prasyarat yang sangat penting untuk kelanjutan studi bagi pengetahuan berikutnya. Untuk ini maka penguasaannya dituntut 100%.
b.) Tes formatif
Ditinjau dari tujuan, tes formatif digunakan untuk mengetahui apakah siswa sudah mencapai tujuan intruksional khusus. Dalam sistem pendidikan yang lama, tidak ada tuntutan terhadap pencapaian TIK namun dalam tahun 1975, dangan keluarnya kurikulum tahun 1975 dan modul, tingkat pencapaian untuk tes formatif adalah 75%. Siswa yang belum mencapai skor 75% dari skor yang diharapkan, diwajibkan menempuh kegiatan perbaikan (renudial program) sampai siswa yang bersangkutan lulus dalam tes yang berarti bahwa siswa tersebut telah mencapai skor 75% dari skor maksimal yang diharapkan.
c.) Tes sumatif
Sesuai dengan fungsi tes sumatif yaitu memberikan tanda kepada siswa bahwa mereka telah mengikuti suatu program dan untuk menentukan posisi kemampuan siswa dibandingkan dengan kawan dalam kelompoknya. Maka tidak diperlukan suatu tuntutan harus berapa tingkat penguasaan yang dicapai. Namun demikiantidak berarti bahwa tes sumatif tidak penting. Perlu diingat bahwa tes sumatif ini dilaksanakan pada akhir program, berarti nilainya digunakan untuk menentukan kenaikan kelas atau kelulusan.
Secara terpisah, tidak ditentukan tingkat pencapaiannya tetapi secara keseluruhan akan dikenakan suatu norma tertentu yaitu norma kenaikan kelas atau norma kelulusan.
  1. Ditinjau dari cara pencatatan hasil
a.) Tes diagnostik
Dicatat dan dilaporkan dalam bentuk profil.
b.) Tes formatif
Prestasi setiap siswa dilaporkan dalam bentuk catatan berhasil atau gagal menguasai sesuatu tugas.
c.) Tes sumatif
Keseluruhan skor atau sebagian skor dari tujuan-tujuan yang dicapai.

IV. KESIMPULAN
Subjek evaluasi adalah orang yang melakukan pekerjaan evaluasi. Siapa yang dapat disebut sebagai subjek evaluasi untuk setiap tes, ditentukan oleh suatu aturan pembagian tugas atau ketentuan yang berlaku.
 Sasaran penilaian untuk unsur-unsurnya meliputi : input, transformasi, dan out put.
a). Input
Input mempunyai 4 Aspek yang bersifat rohani antara lain :
        1.     Kemampuan
        2.     Kepribadian
        3.     Sikap-sikap
        4.     Intelegensi
b). Transformasi
Unsur-unsur dalam transformasi yang menjadi objek penilaian antara lain :
1)      Kurikulum atau materi
2)      Metode dan cara penilaian
3)      Sarana pendidikan atau media
4)      Sistem administrasi
5)      Guru dan personal lainnya
c). Output
Prinsip-prinsip evaluasi antara lain  :
1.      Keterpaduan
2.      Keterlibatan siswa
3.      Koherensi
4.      Pedagogis
5.      Akuntabilitas
Alat evaluasi dikatakan baik apabila mampu mengevaluasi sesuatu yang dievaluasi dengan hasil seperti keadaan yang di evaluasi. Dalam menggunakan alat tersebut evaluator menggunakan cara atau teknik, dan oleh karena itu dikenal dengan teknik evaluasi. Seperti disebutkan diatas, ada dua teknik evaluasi yaitu teknik non tes dan teknik tes.
           1.            Teknik Non Tes
Yang tergolong taknik non tes adalah :
-          skala bertingkat (rating scale)
-          kuesioner (questionair)
-          daftar cocok (check list)
-          wawancara (interview)
-          pengamatan (observation)
-          riwayat hidup.
        2.               Teknik tes
Ditinjau dari segi kegunaan untuk mengukur siswa, maka dibedakan atas adanya 3 macam tes, yaitu:
1.      Tes diagnostik
2.      Tes formatif
3.      Tes sumatif






PENGERTIAN, TUJUAN, FUNGSI, DAN CIRI EVALUASI PENDIDIKAN

A.    PENDAHULUAN
      Tidak semua orang menyadari bahwa setiap saat kita selalu melakukan pekerjaan evaluasi. Dalam beberapa kegiatan sehari-hari, kita jelas-jelas mengadakan pengukuran dan penilaian
      Dari kalimat diatas kita sudah menemui tiga buah istilah yaitu : evaluasi, pengukuran, dan penilaian. Kebanyakan orang cenderung mengartikan ketiga kata tersebut sebagai suatu pengartian yang sama sehingga sama dalam memakainya, hanya saja tergantung dari kata mana yang siap untuk diucapkannya. Akan tetapi sementara orang lain, membedakan ketiga istilah tersebut. Untuk memahami apa persamaan, perbedaan, ataupun hubungan antara ketiganya akan kita bahas dalam makalah ini.

B.     POKOK PERMASALAHAN
1.      Apa pengertian evaluasi ?
2.      Apa Tujuan dan fungsi penilaian ?
3.      Bagaimana Ciri-ciri penilaian dalam pendidikan ?

C.    TUJUAN
1.      Untuk mengetahui pengertian evaluasi.
2.      Agar mengetahui tujuan dan fungsi penilaian.
3.      Untuk mengetahui ciri-ciri penilaian dalam pendidikan.

D.    PEMBAHASAN
a)      Pengertian Evaluasi
1.      Definisi Evaluasi        
         Menurut Bloom et. Al (1971), evaluasi adalah pengum
pulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa.
         Stufflebeam et. Al (1971), evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan.
         Cronbach (1982), evaluasi adalah deskripsi yang jelas atau menunjukan hubungan sebab-akibat tetapi tidak memberikan penilaian. Untuk memperkara deskripsi, evaluasi dapat mengajukan asumsi-asumsi yang didukung oleh data.
2.      Pengertian Evaluasi
         Istilah evaluasi berasal dari kata inggris yaitu evolution. Menurut Wand dan Brown evaluasi adalah suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai dari pada sesuatu sehingga evaluasi pendidikan dapat diartikan suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan.
3.      Pengertian Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi
-       Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif.
-       Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif.
-       Mengadakan evaluasi meliputi kedua langkah diatas yakni mengukur dan menilai.
4.      Penilaian Pendidikan
         Menurut Ralph Tyler, evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai. Jika belum, bagaimana yang belum dan apa sebabnya.
         Sedangkan menurut Cronbach dan Stufflebeam tambahan definisi tersebut adalah bahwa proses evaluasi bukan sekedar mengukur sejauh mana tujuan tercapai, tetapi digunakan untuk membuat keputusan.
         Menurut pengertian lama, pencapaian tujuan pembelajaran yang berupa prestasi belajar, merupakan hasil dari kegiatan belajar-mengajar semata. Dengan kata lain, kualitas kegiatan belajar-mengajar adalah satu-satunya faktor penentu bagi hasilnya.
         Apabila sekolah diumpamakan sebagai tempat mengolah sesuatu dan calon siswa diumpamakan sebagai bahan mentah maka lulusan dari sekolah itu dapat disamakan dengan hasil olahan yang sudah siap digunakan. Dalam inovasi yang menggunakan teknologi maka tempat pengolahan ini disebut transformasi.
Jika digambarkan dalam bentuk diagram akan terlihat sebagai berikut :











Keterangan :
-          Input
Adalah bahan mentah yang dimasukkan ke dalam transformasi. Yang dimaksud bahan mentah adalah calon siswa yang baru akan memasuki sekolah.
-          Output
Adalah bahan jadi yang dihasilkan oleh transformasi. Yang dimaksud bahan jadi adalah siswa lulusan sekolah yang bersangkutan.
-          Transformasi
Adalah mesin yang bertugas mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi. Dalam dunia sekolah, sekolah itulah yang dimaksud dengan transformasi.
Unsur-unsur yang berfungsi sebagai faktor penentu dalam kegiatan sekolah tersebut antara lain :
a.      Siswa
b.      Guru dan personal lainnya
c.      Bahan pelajaran
d.     Metode mengajar dan sistem evalusi
e.      Sarana penunjang
f.       Sistem administrasi
-     Umpan balik(feed beck)
         Adalah segala informasi baik yang menyangkut output maupun transformasi. Umpan balik ini diperlukan sekali untuk memperbaiki input maupun transformasi.
Penilaian mempunyai makna ditinjau dari berbagai segi :
a.      Makna bagi siswa
            Dengan diadakannya penilaian, maka siswa dapat mengetahui sejauh mana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Hasil yang diperoleh siswa dari pekerjaan menilai ini ada 2 kemungkinan:
1. Memuaskan
2. Tidak memuaskan
b.      Makna bagi guru
1.      Guru akan dapat mengetahui siswa-siswa mana yang sudah berhak melanjutkan pelajarannya karena sudah menguasai bahan maupun mengetahui siswa-siswa yang belum menguasai bahan.
2.      Guru akan mengetahui apakah materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa sehingga untuk memberikan pengajaran diwaktu yang akan datang tidak perlu diadakan perubahan.
3.      Guru akan mengetahui apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum.
c.      Makna bagi sekolah
1.      Apabila guru-guru mengadakan penilaian dan diketahui bagaimana hasil belajar siswa-siswanya, dapat diketahui pula apakah kondisi belajar yang diciptakan oleh sekolah sudah sesuai dengan harapan atau belum.
2.      Informasi tentang tepat tidaknya kurikulum untuk sekolah itu dapat merupakan bahan pertimbangan bagi perencanaan sekolah untuk masa-masa yang akan datang.
3.      Informasi hasil penilaian yang diperoleh dari tahun ketahun, dapat digunakan sebagai pedoman bagi sekolah, yang dilakukan oleh sekolah sudah memenuhi standar atau belum.  

b)      Tujuan dan Fungsi Penilaian
Dengan mengetahui makna penilaian ditinjau dari berbagai segi dalam sistem pendidikan, maka dengan cara lain dapat dikatakan bahwa tujuan atau fungsi penilaian ada beberapa hal yaitu sebagai berikut :
1.      Penilaian  berfungsi selektif
Dengan cara mengadakan penilaian guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi atau penilaian terhadap siswanya. Penilaian itu sendiri mempunyai tujuan, antara lain :
a.       Untuk memilih siswa yang dapat diterima disekolah tertentu.
b.      Untuk memilih siswa yang dapat naik kekelas atau tingkat berikutnya.
c.       Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.
d.      Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah dan sebagainya.
2.      Penilaian berfungsi diagnostik
Apabila alat yang digunakan dalam penilaian cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa. Jadi dengan mengadakan penilaian sebenarnya guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya. Dengan diketahuinya sebab-sebab kelemahan ini, akan lebih mudah dicari untuk mengatasi.
3.      Penilaian berfungsi sebagai penempatan
Sistem baru yang kini banyak dipopulerkan di negara barat, adalah sistem belajar sendiri. Belajar sendiri dapat dilakukan dengan cara mempelajari sebuah paket belajar, baik itu berbentuk modul maupun paket belajar yang lain. Sebagai alasan dari timbulnya sistem ini adalah adanya pengakuan yang besar terhadap kemampuan individual. Setiap siswa sejak lahirnya telah membawa bakat sendiri-sendiri sehingga pelajaran akan lebih efektif apabila disesuaikan dengan pembawaan yang ada. Akan tetapi disebabkan karena keterbatasan sarana dan tenaga. Pendidikan yang bersifat individual kadang-kadang sukar sekali dilaksanakan. Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan, adalah pengajaran secara kelompok. Untuk dapat menentukan dengan pasti dikelompok mana seorang siswa harus ditempatkan, digunakan suatu penilaian.Sekelompok siswa yang mempunyai hasil penilaian yang sama, akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.
4.      Penilaian berfungsi sebagai pengukuran keberhasilan.
Fungsi keempat dari penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. Telah disinggung pada bagian sebelum ini. Keberhasilan program ditentukan oleh beberapa faktor yaitu faktor guru, metode mengajar, kurikulum, sarana, dan sistem administrasi.

c)                   Ciri Penilaian dalam Pendidikan
a.       Ciri pertama dari penilaian dalam pendidikan, yaitu bahwa penilaian dilakukan secara tidak langsung.
Adapun rincian dari aspek-aspek atau indikator iteligensi dimaksud adlah sebagai berikut
1.      Kemampuan varbal,meliputi :  
a.       Analisis linguistik
b.      Mengenal kembali dan mengingat
c.       Memahami dan menciptakan kelucuan atau humor
d.      Menjelaskan sesuatu dalam proses belajar mengajar
e.       Meyakinkan seseorang agar bersedia melakukan sesuatu
f.       Memahami perintah dengan tepat
2.      Kemampuan mengamati dan rasa ruang, meliputi :
a.       Khayalan
b.      Menyusun kerangka fikir
c.       Menemukan jalan dalam konsep ruang
d.      Memanipulasi imajinasi
e.       Menginterpretasikan grafik/bagian/model
f.       Mengenal hubungan objek dalam ruang
g.      Memiliki persepsi yang cermat melalui berbagai sudut pandangan
3.      Kemampuan gerak kinetis-fisik, meliputi
a.       Mengtur/mengelola gerak refleks
b.      Mengatur/mengelola gerak terencana
c.       Memperluas kesadaran melalui tubuh
d.      Peduli hubungan antar bagian tubuh
e.       Meningkatkan fungsi tubuh
4.      Kemampuan logika/matematika, meliputi :
a.       Pengenalan pola-pola abstraksi
b.      Pertimbangan induktif
c.       Pertimbangan deduktif
d.      Cerdas dalam menangkap hubungan dan kaitan
e.       Menyelesaikan kalkulasi kompleks
f.       Pertimbangan ilmiah
5.      Kemampuan dalam hubungan intra-personal, meliputi :
a.       Konsentrasi dalam berfikir
b.      Keberhati-hatian
c.       Melakukan meta kognisi
d.      Kesadaran dan ekspresi berbagai perasaan
e.       Kesadaran atas dirinya
f.       Tingkat pemikiran-penalaran
6.      Kemampuan dalam musik/irama, meliputi :
a.    Struktur musik
b.   Skematis dalam mendengarkan musik
c.    Sensitif terhadap suara
d.   Kreatif dalam melodi dan irama
e.    Sensitif dalam nada
b.      Ciri kedua dari penilaian pendidikan, yaitu penggunaan pengukuran kuantitatif. Penilaian pendidikan bersifat kuantitatif  artinya menggunakan simbol bilangan sebagai hasil pertama pengukuran.setelah itu lalu diinterprestikan ke bentuk kualitatif.
c.       Ciri ketiga dari penilaian pendidikan,yaitu bahwa penilaian pendidikan menggunakan unit-unit atau satuan-satuan yang tetap karena IQ 105 termasuk anak normal. Anak lain yang hasil pengukuran IQ nya 80, menurut unit ukurannya termasuk anak dungu.
d.      Ciri keempat dari penilaian pendidikan adalah bersifat relatif artinya tidak sama atau tidak selalu tetap dari satu waktu ke waktu yang lain.
e.       Ciri kelima dari penilaian pendidikan adalah bahwa dalam penilaian pendidikan itu sering terjadi kesalahan-kesalahan. Adapun sumber kesalahan dapat ditinjau dari berbagai faktor yaitu:
1.      Terlatak pada alat ukurnya
2.      Terletak pada orang yang melakukan penilaian
Hal ini dapat berupa:
a.       Kesalahan pada waktu melakukan penilaian karena faktor subjektif penilai telah berpengaruh pada hasil pengukuran.
b.      Kecenderungan dari penilai untuk memberikan nilai secara ”murah” atau ”mahal”.
c.       Adanya hallo-effect, yakni adanya kesan penilai terhadap siswa.
d.      Adanya pengaruh hasil yang telah diperoleh terdahulu.
e.       Kesalahan yang disebabkan oleh kekeliruan menjumlah angka-angka hasil penelitian.
3.      Terletak pada anak yang dinilai
4.      Terletak pada situasi dimana penilaian berlangsung

E.  KESIMPULAN
Evaluasi yaitu : proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi untuk menetapkan apakah dalam kenyataan diri siswa terjadi perubahan dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa dengan menunjukkan hubungan sebab-akibat.
Pengukuran bersifat kuantitatif, maksudnya membandingkan sesuatu dengan menggunakan satu ukuran.
Penilaian bersifat kualitatif, maksudnya membandingkan sesuatu dengan perbandingan baik buruk suatu keputusan.
Penilaian pendidikan sangat penting dalam lembaga sekolah, baik bagi siswa, guru maupun bagi sekolah tersebut. Bagi siswa penilaian mempunyai makna bahwa siswa dapat mengetahui sejauhmana keberhasilan mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru dan dapat mengetahui hasil yang diperoleh siswa dari pekerjaannya. Bagi guru penilaian mempunyai makna bahwa guru dapat mengetahui sejauhmana siswa menguasai materi atau bahan yang diajar dan metode yang digunakan sudah tepat atau belum. Makna penilaian bagi sekolah bahwa sekolah dapat mengetahui kondisi belajar yang diciptakan sudah sesuai dengan harapan atau belum dan kurikulum yang digunakan sudah tepat atau belum.
Tujuan penilaian pendidikan yaitu kegiatan menilai yang terjadi dalam kegiatan pendidikan. Sedangkan fungsi penilaian pendidikan yaitu :
1.    Penilaian  berfungsi selektif
2.    Penilaian berfungsi diagnostik
3.    Penilaian berfungsi sebagai penempatan
4.    Penilaian berfungsi sebagai pengukuran keberhasilan.
Ciri-ciri Penilaian dalam Pendidikan yaitu:
a.       Ciri pertama
b.      Ciri kedua
c.       Ciri ketiga
d.      Ciri keempat
e.       Ciri kelima

 


15 Kesalah Pahaman tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah


BAB I
PENDAHULUAN

Dalam kajian Epistemologi terdapat banyak bagian-bagian yang masing-masing sebagai rancang bangun, yang kemudian membentuk sebuah disiplin ilmu secara otonom. Salah satunya adalah Epistemologi Irfani, yang dikatakan merupakan salah satu cabang dari ilmu filsafat islam, seperti halnya Burhani dan Bayani. Namun ketika pembahasan berlanjut ke ranah ilmu pengetahuan secara umum, maka tentu Epistemologi Irfani juga mempunyai andil di dalamnya.

Dalam kajian epistemologi Barat, dikenal ada tiga aliran pemikiran, yakni empirisme, rasionalisme dan intuitisme. Sementara itu, dalam pemikiran filsafat Hindu dinyatakan bahwa kebenaran bisa didapatkan dari tiga macam, yakni teks suci, akal dan pengalaman pribadi.



BAB II
PEMBAHASAN


A. Epistimologi Bayani.
Bayani adalah metode pemikiran khas Arab yang didasarkan atas otoritas teks (nash), secara langsung atau tidak langsung Secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran. Secara tidak langsung berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan penalaran. Meski demikian, hal ini bukan berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna dan maksudnya, tetapi tetap harus bersandar pada teks.1
Dengan demikian, sumber pengetahuan bayani adalah teks (nash), yakni al-Qur`an dan hadis.2 Karena itulah, epistemologi bayani menaruh perhatian besar dan teliti pada proses transmisi teks dari generasi ke generasi.Ini penting bagi bayani, karena – sebagai sumber pengetahuan-- benar tidaknya transmisi teks menentukan benar salahnya ketentuan hukum yang diambil. Jika transmisi teks bisa di pertanggung-jawabkan berarti teks tersebut benar dan bisa dijadikan dasar hukum. Sebaliknya, jika transmisinya diragukan, maka kebenaran teks tidak bisa dipertanggung jawabkan dan itu berarti ia tidak bisa dijadikan landasan hukum. Karena itu pula, mengapa pada masa tadwin (kodifikasi), khususnya kodifikasi hadis, para ilmuan begitu ketat dalam menyeleksi sebuah teks yang diterima.
Berdasarkan hal tersebut, bahwa bayani berkaitan dengan teks, maka persoalan pokoknya adalah sekitar lafadz,makna dan ushul furu`nya. Misalnya, apakah suatu teks dimaknai sesuai konteksnya atau makna aslinya (tauqif), bagaimana menganalogikan kata-kata atau istilah yang tidak disinggung dalam teks suci, bagaimana memaknai istilah-istilah khusus dalam nama - nama, seperti kata shalat, shiyam, zakat.3
Selanjutnya, untuk mendapatkan pengetahuan dari teks, metode bayani menempuh dua jalan.Pertama, berpegang pada redaksi (lafadz) teks, dengan menggunakan kaidah bahasa Arab, seperti nahwu dan sharaf.Kedua, berpegang pada makna teks dengan menggunakan logika, penalaran atau rasio sebagai sarana analisa.4
Pada jalan yang kedua, penggunaan logika dilakukan dengan empat macam cara;yaitu;
-pertama, berpegang pada tujuan pokok(al- maqashid al-dlaruriyah) yang mencakup lima kepentingan vital, yakni menjaga keselamatan agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Caranya dengan menggunakan induksi tematis (al-istiqra’ al-ma`wi) dan disitulah tempat penalaran rasional.5
-kedua, berpegang pada illah teks. Untuk menemukan dan mengetahui adanya illah suatu teks ini digunakan sebuah sarana yang memerlukan penalaran yang disebut ‘jalan illah’(masalikul- illah) yang terdiri atas tiga hal;
(1) illat yang telah ditetapkan oleh nash, seperti illat tentang kewajiban mengambil 20% harta rampasan untuk fakir miskin agar harta tersebut tidak beredar dikalangan orang kaya saja (QS. Al-Hasyr, 7).
 (2) illah yang telah disepakati oleh para mujtahid, misalnya illah menguasai harta anak yang masih kecil adalah karena kecilnya.
(3) al-Sibr wat–taqsim (trial) dengan cara merangkum sifat-sifat baik untuk dijadikan illat pada asal (nash), kemudian illat itu dikembalikan kepada sifat-sifat tersebut agar bisa dikatakan bahwa illah itu bersifat begitu atau begini. Cara kedua ini lebih lanjut memunculkan metode qiyas (analogi) istihsan, yakni beralih dari sesuatu yang jelas kepada sesuatu yang masih samar, karena adanya alasan yang kuat untuk pengalihan itu.
-ketiga, berpegang pada tujuan sekunder teks.Tujuan sekunder adalah tujuan yang mendukung terlaksananya tujuan pokok. Misalnya, tujuan pokok adalah memberikan pemahaman materi kuliah pada mahasiswa, tujuan sekunder memberikan tugas. Adanya tugas akan mendukung pemahaman kuliah yang diberikan. Sarana yang digunakan untuk menemukan tujuan sekunder teks adalah istidlal, yakni mencari dalil dari luar teks, berbeda dengan istimbat yang berarti mencari dalil pada teks.
-keempat, berpegang pada diamnya Syari` (Allah dan Rasul saw). Ini untuk masalah-masalah yang sama sekali tidak ada ketetapannya dalam teks dan tidak bisa dilakukan dengan cara qiyas. Caranya dengan kembali pada hukum pokok (asal) yang telah diketahui. Misalnya, hukum asal muamalah adalah boleh (al-ashlu fil mu`amalah al-ibahah), maka jual beli lewat internet yang tidak ada ketentuannya berarti boleh, tinggal bagaimana mengemasnya agar tidak dilarang. Metode ini melahirkan teori istishab, yakni menetapkan sesuatu berdasar keadaan yang berlaku sebelumnya selama tidak ditemui dasar/ dalil yang menunjukkan perubahannya.



B.Epistemologi Irfani.
Pengetahuan irfani tidak didasarkan atas teks seperti bayani, tetapi pada kasyf, tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan. Karena itu, pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks tetapi dengan olah ruhani, dimana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Masuk dalam pikiran, dikonsep kemudian dikemukakan kepada orang lain secara logis. Dengan demikian pengetahuan irfani setidaknya diperoleh melalui tiga tahapan,yaitu;
 a.persiapan
 b.penerimaan
 c. pengungkapan, dengan lisan atau tulisan.
a.Tahap pertama, persiapan
 Untuk bisa menerima limpahan pengetahuan (kasyf), seseorang harus menempuh jenjang-jenjang kehidupan spiritual. Setidaknya, ada tujuh tahapan yang harus dijalani, mulai dari bawah menuju puncak.Tahapan itu adalah;
1.Taubat
2.Wa ra `, menjauhkan diri dari segala sesuatu yangsubhat,
3.Zuhud, tidak tamak dan tidak mengutamakan kehidupan dunia
4.Faqir, mengosongkan seluruh fikiran dan harapan masa depan, dan tidak                                       menghendaki apapun kecuali Tuhan swt
5.Sabar, menerima segala bencana dengan laku sopan dan rela
6.Tawakkal, percaya atas segala apa yang ditentukan-Nya
7.Ridla, hilangnya rasa ketidaksenangan dalam hati sehingga yang tersisa hanya gembira dan sukacita..

b. Tahap selanjutnya adalah penerimaan
 Jika telah mencapai tingkat tertentu dalam sufisme, seseorang akan mendapatkan limpahan pengetahuan langsung dari Tuhan secara illuminatif. Pada tahap ini seseorang akan mendapatkan realitas kesadaran diri yang demikian mutlak (kasyf), sehingga dengan kesadaran itu ia mampu melihat realitas dirinya sendiri (musyahadah) sebagai objek yang diketahui. Namun, realitas kesadaran dan realitas yang disadari tersebut, keduanya bukan sesuatu yang berbeda tetapi merupakan eksistensi yang sama, sehingga objek yang diketahui tidak lain adalah kesadaran yang mengetahui itu sendiri, begitu pula sebaliknya (ittihad)yang dalam kajian Mehdi Yazdi disebut ‘ilmu huduri’ atau pengetahuan swaobjek (self-object-knowledge)
c.Tahap terakhir, pengungkapan
Yakni pengalaman mistik diinterpretasikan dan diungkapkan kepada orang lain, lewat ucapan atau tulisan. Namun, karena pengetahuan irfani bukan masuk tatanan konsepsi dan representasi tetapi terkait dengan kesatuan simpleks kehadiran Tuhan dalam diri dan kehadiran diri dalam Tuhan, sehingga tidak bisa dikomunikasikan, maka tidak semua pengalaman ini bisa diungkapkan.
Persoalannya, bagaimana makna atau dimensi batin yang diperoleh dari kasyf tersebut diungkapkan?Pertama, diungkapkan dengan caraI`tibar atau qiyas irfani. Yakni analogi makna batin yang ditangkap dalam kasyf kepada makna dhahir yang ada dalam teks.Kedua, diungkapkan lewat syathahat, suatu ungkapan lisan tentang perasaan (al-wijdan) karena limpahan pengetahuan langsung dari sumbernya dan dibarengi dengan pengakuan, seperti ungkapan ‘Maha Besar Aku’ dari Abu Yazid Bustami (w. 877 M), atau Ana al-Haqq dari al-Hallaj (w. 913 M).Karena itu, syathahat menjadi tidak beraturan dan diluar kesadaran.

C.Epistemologi Burhani.
Berbeda dengan bayani dan irfani yang masih berkaitan dengan teks suci, burhani sama sekali tidak mendasarkan diri pada teks. Burhani menyandarkan diri pada kekuatan rasio, akal, yang dilakukan lewat dalil-dalil logika. Perbandingan ketiga epistemologi ini adalah bahwa bayani menghasilkan pengetahuan lewat analogi furu` kepada yang asal; irfani menghasilkan pengetahuan lewat proses penyatuan ruhani pada Tuhan, burhani menghasilkan pengetahuan melalui prinsip-prinsip logika atas pengetahuan sebelumnya yang telah diyakini kebenarannya.Dengan demikian, sumber pengetahuan burhani adalah rasio, bukan teks atau intuisi. Rasio inilah yang memberikan penilaian dan keputusan terhadap informasi yang masuk lewat indera.
Selanjutnya, untuk mendapatkan sebuah pengetahuan, burhani menggunakan aturan silogisme.Mengikuti Aristoteles, penarikan kesimpulan dengan silogisme ini harus memenuhi beberapa syarat :
(1) mengetahui latar belakang dari penyusunan premis,
(2) adanya konsistensi logis antara alas an dan keismpulan,
(3) kesimpulan yang diambil harus bersifat pasti dan benar, sehingga tidak mungkin menimbulkan kebenaran atau kepastian lain.
Al-Farabi mempersyaratkan bahwa premis-premis burhani harus merupakan premis-premis yang benar, primer dan diperlukan. Premis yang benar adalah premis yang memberi keyakinan, menyakinkan.Suatu premis bisa dianggap menyakinkan bila memenuhi tiga syarat;
(1) kepercayaan bahwa sesuatu (premis) itu berada atau tidak dalam kondisi spesifik,
(2) kepercayaan bahwa sesuatu itu tidak mungkin merupakan sesuatu yang lain selain darinya,
(3) kepercayaan bahwa kepercayaan kedua tidak mungkin sebaliknya. Selain itu, burhani bisa juga menggunakan sebagian dari jenis-jenis pengetahuan indera, dengan syarat bahwa objek- objek pengetahuan indera tersebut harus senantiasa sama (konstan) saat diamati, dimanapun dan kapanpun, dan tidak ada yang menyimpulkan sebaliknya.




PENUTUP

]           Tiga epistemologi Islam ini mempunyai ‘basis’ dan karakter yang berbeda. Pengetahuan bayani didasarkan atas teks suci, irfani pada intuisi sedang burhani pada rasio. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Untuk bayani, karena hanya mendasarkan diri pada teks, ia menjadi terfokus pada hal-hal yang bersifat aksidental bukan substansial, sehingga kurang bisa dinamis mengikuti perkembangan sejarah dan sosial masyarakat yang begitu cepat. Kenyataannya, pemikiran Islam saat ini yang masih banyak didominasi pemikiran bayani fiqhiyah kurang bisa merespon dan mengimbangi perkembangan peradaban dunia. Tentang burhani, ia tidak mampu mengungkap seluruh kebenaran dan realitas yang mendasari semesta. Misalnya, burhani tidak mampu menjelaskan seluruh eksistensi diluar pikiran seperti soal warna, bau, rasa atau bayangan.





DAFTAR PUSTAKA



Bakar, Osman, Hierarki Ilmu, terj. Purwanto, Bandung, Mizan, 1997.
Tauhid dan Sains ,     Bandung, Pustaka Hidayah, 1996.
Buthi, Dlawâbith al-Mashlahah fî al-Syarî`at al-Islâmiyah, Beirut, Muassasat, tt.
Ibn Rusyd, Fashl al-Maqâl Fîmâ Bain al-Hikmah wa al-Syarîah min al-
Ittishâl, edit. M. Imarah, Mesir, Dar al-Ma`arif, tt.
Jabiri, Bunyah al-Aql al-Arabi, Beirut, al-Markaz al-Tsaqafi al-Arabi,1991









1 Bunyah,Al-Jabiri,hlm 116

2 Ilmu Ushul Fiqh,Abdul Wahab Khalaf,Hlm;22

3 Bunyah,Al – Jabiri, hlm 62
4 Ibid,hlm 530

5 Al – Muwafaqot fii Ushulil Ahkam III
,As – syatibi,hlm; 62

Copyright @ 2013 Para Pencari Ilmu Dunia Akhirat.